KANGKER WAJAH MBAH KAREP

Kawan Amal, masih ingatkah Mbah Karep yang pada bulan Juni yang lalu jadi viral di medsos sehingga menggerakkan Bupati dan Kemensos turun tangan? Dialah Mbah Karep yang hidup seorang diri karena terusir dari keluarganya akibat kangker yang menggerogoti wajahnya

Berikut kisah hidup Mbah Karep yang berhasil dihimpun tim Amal Kemanusiaan kotakamal Indonesia Gresik

Mbah Karep pernah bahagia. Pria 65 tahun itu pernah menikah, namun pernikahannya tak membuahkan keturunan. Pernikahan itu bubar saat Mbah Karep menderita kanker kulit.

Kasan, salah satu kerabat Mbah Karep yang mendampingi mengatakan, Mbah Karep adalah anak dari Ngasmin dan Teki.

Mbah Karep adalah bungsu dari empat bersaudara. Tiga saudaranya yang lain adalah Sampura, Raun, dan Kasih. Nama terakhir merupakan saudara kembar Mbah Karep. Sampura dan Raun kini sudah meninggal. Yang masih hidup hanya Kasih.

Kasan tidak tahu kapan Mbah Karep menikah. Perempuan yang dinikahi Mbah Karep bernama Wiji. Saat menikah, pasangan tersebut bertempat tinggal di rumah Wiji di Dusun Ngglombok Wetan, Kecamatan Kedamean. Untuk menghidupi diri, Mbah Karep bekerja sebagai petani dan tukang.

Sekitar lima atau enam tahun lalu, ada benjolan seperti tahi lalat di dekat hidung bagian kiri Mbah Karep. Karena gatal, Mbah Karep kerap menggaruknya sehingga terluka. Siapa sangka luka itu ternyata ‘hidup’. Luka itu secara perlahan menggerogoti mukanya.

Bukannya tanpa usaha. Mbah Karep sudah mengobatkan penyakitnya ke RSU dr Soetomo. Namun dia hanya dikasih obat untuk menghambat kanker itu menyebar lebih jauh lagi.
Karena adanya luka itu, Mbah Karep tidak bisa bekerja lagi. Dan tiga tahun lalu, istri Mbah Karep, Wiji, meninggalkannya. Mbah Karep diusir dari rumah istrinya. Mbah Karep menurut saja dan tinggal menumpang di rumah kerabat yang mau menampungnya.

Karena tak ingin memberatkan hidup kerabatnya karena mereka juga hidup susah, maka Mbah Karep memutuskan hidup sendiri.
Dia menempati gubuk yang berdiri di ladangnya. Tak lama menempati gubuk itu, Mbah Karep pindah dan mendirikan gubuk di tanah milik Kasianah yang tak jauh dari gubuknya yang sekarang. Tak lama menempati gubuk itu, Mbah Karep menempati gubuknya yang sekarang, yang berdiri di atas tanah milik Ibu Tio.

Mbah Karep sendiri mengacungkan tiga jari yang berarti tiga tahun saat ditanya sudah berapa lama ia tinggal di gubuknya. Tetapi menurut Kasan, Mbah Karep tinggal di gubuknya yang sekarang sudah dua tahun, dan setahunnya lagi tinggal di dua gubuk yang pernah ditempatinya.

Kini rumah Mbah Karep sudah dibedah oleh Bupati Gresik, untuk biaya berobatpun ditanggung oleh Dinsos Gresik. Kotakamal Indonesia Gresik hari ini menyalurkan kembali dana amanah dari donatur untuk mbah Karep untuk kehidupan sehari – harinya. Semoga manfaat dan berkah (hmd/jack)